Sabtu, 16 Oktober 2010

MENTARI di BALIK JENDELA

Tak usah kau menikam tombak tanya. Kini,pulauku tak seperti dulu. Mereka manusia berkepala batu yang hidup di zaman mesin. Aku ingin manundukkan mereka dengan tangan besi. Namun...ada belenggu dalam duniaku. Terlahir dengan bergidik ketakutan. Terenyahkan oleh kekhawatiran. Hadir tanpa suara. Mereka berusaha mancari bagian terang dalam hidup, tanpa membawa lampion pada dua sisi. Harus bagaimana kulakukan. Karena aku takut tersesat oleh kemauan. Aku ingin melontar kata dari lisan guna mencegah, tapi hanya harap hampa yang selalu ada.
Sedari dulu hatiku meretak. Keluargaku memang miskin, dan lebih miskin dari yang kamu bayangkan. Hidup dengan pria yang sensasi di kulitnya semakin menumpul. Hidup didalam gubuk kecil yang terbentuk oleh alam. Namun...walau begitu keadaan kami, tak pernah ada hasratku untuk menyuruh dan membiarkan ayah menempelkan hidup kami denagan merusak dinding bumi Bangka yang telah terhias indah. Pulau Bangka raya makna. Kaya akan timah diantara lapisan tanahnya. Semenjak pemerintah membiarkan penggalian timah di daerahku. Masyarakatnya banyak yang beralih profesi, yang dulunya petani, kini menjadi penggali. Hal itu pula yang terjadi pada ayah. Kini ia manjadi seorang penggali. Walau telah berulangkali ku cegah, ia tetap bersikukuh. Ia ingin sedikit demi sedikit memperbaiki perekonomian keluarga kami. Ku akui beban miskin ini memang sedikit berkurang semenjak ayah dan warga sekitar menggali timah. Namun...berulangkali ku katakan, hatiku pilu...jika ku ingat bayang-bayang kehancuran disetiap sudut pulauku. Ya, aku memang tak sanggup mencegah mereka. Modalku hanyalah cinta untuk pulau ini. Kekuasaan dan kekuatan aku tak punya, tak punya apa-apa selain cinta. Walau batin meronta, walau hati menangis, aku tetap tak bisa berbuat apa-apa. Hanya harapan yang selalu mendiami dan mimpi yang selalu menerangi. Pada hati ini...ku bangkitkan semangat diri. Untuk lalui hari-hari sedih ini.
“Kartini, ayah pergi dulu, kamu jaga rumah baik-baik ya”,lafadznya padaku, sembari manentengi sepeda tuanya.
“Iya yah, hati-hati, dan ayah harus janji untuk kembali lebih awal malam ini”, ucapku.
“Iya nak, ayah janji”,ayah tersenyum padaku dan tak seperti biasa, kali ini sebelum ia pergi, ia mengusap rambutku dan menciumi keningku.
“Nak, ayah sangat sayang padamu, ayah percaya padamu, dan kaupun harus percaya bahwa semua ini ayah lakukan semata-mata untuk dirimu”.
“Iya yah, aku mengerti, aku juga sangat manyayangi ayah”, ku balas kata-kata mesra dari ayah. Senyum indahnya belun lepas dari bibirnya itu, aku bahagia melihat senyumnya yang indah itu. Perlahan ia melangkah, menentengi sepeda dan mulai menaikinya. Sepedanya mulai melaju dan menjauhi titik awal. Namun...tiba-tiba jantungku berdetak, hatiku mulai merajut renda-renda kegelisahan, memenjarakan fatamorgana dengan mimpi-mimpi buruk. Detak jantungku berayun seirama dengan keresahan yang ku rasakan. Bayang ayah tak pernah pergi, hatiku terus mencoba tegarkan diri, jiwaku ini terkapar menangis dan berlindung dibalik doa-doa, Astaga...apa yang aku lihat?, dari kejauhan aku seperti melihat ada kuda putih yang mengejar laju sepeda ayah. Aku semakin resah...ingin ku kejar ayah dan menghentikan laju sepedanya itu. Namun, sekali lagi itu semua hanya akan berbuah kesia-siaan, karena laju sepeda ayah semakin kencang dan jaraknya semakin menjauh dariku. Ku tegakkan langkahku, berusaha tegar berjalan, sambil meluncurkan ribuan roket zikir dan doa kepada Tuhan. Aku terus berusaha tenang, tapi tetap mengambang. Berusaha sabar, tapi buyar. Memang sulit mengubur ketakutan ini, labirin hatiku terlalu sulit untuk ditelusuri. Aku melangkah menuju ke ruang tamu, sesampai di ambang pintu terlihat ada kilatan panjang di langit cerah, seakan-akan menyentuh muka bumi, sesaat petir pun mengiringi hadirnya. Meraung-raung, menyusup dan memaksa masuk pada setiap lubang terbuka, aku heran, tiada tanda-tanda turun hujan, namun kilat menyambar-nyambar. Aku tetap berusaha menenangkan diri, ku baringkan tubuhku diatas tikar dan sesaat terlelap dalam duniaku sendiri.
Aku terlena beberapa saat dalam duniaku. Tak lama...samar-samar ku dengar ada orang yang mengetuk pintu rumah dan memanggil namaku. Ku buka pintu, ku lihat pamanku, wajahnya pucat, hembusan nafasnya terlihat tak beraturan, peluhnya membasahi pakaian yang ia kenakan.
“Kartini ayahmu...”,ucap paman, nafasnya masih tak beraturan, ia terlihat lelah dan gugup, hatiku kembali dihinggapi keresahan.
“Ada apa paman?, coba paman tenang dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi”, aku menyulam benang tanya, dengan hati yang berbenang kusut.
“Ayahmu, dia telah meninggal, sepedanya jatuh kedalam jurang”,kata-kata itu sampai sekarang masih pun masih ku rasakan pahitnya, singkat namun mampu menikam jauh kedalam jantungku, sedikit namun mampu menghancurkan hatiku menjadi keping-keping pilu, aku tak dapat berkata-kata. Baru tadi pagi ayah dan aku saling memahami indahnya kasih sayang antara seorang anak dengan ayahnya, baru tadi pagi juga aku memahami ayah dan pekerjaan barunya. Bahkan...senyum indah ayah tadi pagi masih tersimpan pada memori-memori indah hidupku dengannya. Aku benar-benar tak percaya. Sampai paman mengajakku ke rumah sakit untuk melihat jasatnya yang sudah tak berdaya. Aku dan paman mengendarai sepeda motor berkecepatan kilat. Sesampai kami di rumah sakit, aku langsung berlari, aku ingin melihat kebenaran perkataan paman dan terus berharap ayah masih bernafas untukku. Di sudut kamar, ku lihat sosok seorang pria yang tubuhnya telah kaku, mulutnya membisu, raut lelah di wajahnya membatu. Aku tak sanggup menahan mutiara kesedihan yang perlahan jatuh dari kedua pelupuk mataku. Kakiku melemah, langkahku gontai, pijakanku seperti berputar, tiba-tiba gelap menghampiriku. Aku berada dalam ketidaksadaran.
“Tini, kau sudah sadar?”, seseorang berucap lembut, kepalaku masih terasa pusing, dalam kebingungan perlahan ku buka mataku perlahan, ku lihat...ternyata bibiku.
“Tini...tadi itu kau pingsan saat melihat jasad ayahmu, lalu paman membopongmu ke rumah bibi, tini...kau sekarang seorang diri, dan bibi harap kau mau tinggal bersama paman dan bibi di sini”, aku hanya mengangguk, tak sanggup berucap.
“Syukurlah,sekarang kau beristirahatlah dahulu, tenangkan dirimu”, bibi mengusap kepalaku dan perlahan meninggalkan kamar. Sepi dan sunyi ku sendiri. Kalaupun tanpa harapan untuk terus maju, aku tak mau lagi hidup rasanya. Kau tau teman...aku kini sendiri, sebatang kara di dunia ini. Ayah, orang yang selalu ku damba hadirnya untuk selalu ada disampingku menjalani duka dan derita dunia, kini telah tiada. Aku yakin, derita ini akan mempersiapkanku kepada kenikmatan. Ia dengan kejam menyapu segala yang ada di hidupku, agar kebahagiaan baru dapat menemukan ruang untuk dimasuki. Bagai pohan yang menggugurkan dedauanan, untuk ditumbuhi dedaunan baru. Ya, aku harus yakin akan hal itu. Karena hanya dengan itulah orang sepertiku ini dapat bertahan hidup. Aku memang bukan siapa-siapa di dunia ini, namun...bukan berarti dengan itu aku harus selalu mati.
Cukup lama ku renungi nasibku kemarin, hari ini, esok, dan seterusnya. Perlahan mataku terpejam. Hari baru menunjukkan pukul delapan malam, namun mataku tak kuasa lagi menahan kantuk. Ya, sekarang aku sendiri pada dunia baruku. Dari kegelapan dunia ini, aku seperti melihat sosok ayah, dan sesaat terang merobek gelap.
“Tini...sini nak”, ayah berucap, wajahnya pucat, masih terlihat lelah, aku tak sanggup menahan tangis. Ayah benar-benar manepati janjinya untuk menemuiku lebih awal malam ini. Aku memeluk ayah dan menngis sejadinya di pelukannya. Bagi dunia ayah mungkin hanyalah seseorang, tapi bagiku ayah adalah dunia. Aku merindukan ayah. Aku merasa tak mampu hidup lebih lama tanpanya.
“Ayah, kenapa begitu cepat ayah tinggalkan Tini. Disini aku sendiri, nasib begitu kejam mempermainkan diri ini, Tini tak mampu terus-terusan bersembunyi di balik mimpi”, kucurahkan semua keluhku padanya.
“Tini...ayah hadir malam ini untukmu, nak...walaupun mesin pita tak lagi berketik-ketik, walau pena tak lagi bertinta, tapi asa harus tetap beringas mengembara. Jagalah khayalmu untuk menerangi benakmu, kau ingat kata-kata ayah ini nak”.
“Iya yah, iya...Tini akan terus berusaha bertahan”.
“Nak, ayah sekarang merasa tak tenang,ayah ada satu permintaan padamu, tolong ayah nak, ayah takkan merasa tenang dan akan terus terbebani jikalau lubang timah yang telah ayah gali belum juga tertutupi, tolong nak...tutupi lubang yang telah ayah gali, dan tanami sejuta pohon di atasnya, agar ayahmu ini tenang dan tak lagi terbebani”, ayah memelas dan perlahan bayangnya hilang oleh gelap yang merobek terang.
Pagi ini cerah, secerah harapan yang didambakan ayah, secerah mimpi yang harus ku raih. Tuhan, kali ini nasib mempermainkan diriku, namun aku tak harus selalu tunduk di belakangnya. Dalam hati aku bertanya, mampukah aku mewujudkan permintaan ayah, mengembalikan keindahan pulau ini, sedangkan manusia tak bertanggung jawab lainnya masih pada tingkahnya. Tolonglah Tuhan...aku ingin mentari itu, untuk ku berikan kepada ayah, Tolonglah aku...walau ku tau itu sulit, aku akan tetap berkeinginan meraih mentari di balik jendela ini. Semua itu hanya untuk ayah. Hanya untuk pulau yang selalu kurindukan keindahannya.

********************
















BIODATA PENULIS:
NAMA :DISA NATASIA WAHYUNI PUTRI
ASAL SEKOLAH :SMA 1 PEMALI
NO HP :085268520504
NO TELP SEKOLAH :(0717)4298004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar